Sahabat, setiap hari lebih dari 1,8 miliar umat Islam di seluruh dunia menghadapkan wajah mereka ke satu titik yang sama saat shalat. Dari Jakarta, dari London, dari New York, dari Tokyo, semua menghadap ke satu arah yang sama.
Titik itu adalah Kabah. Sebuah bangunan berbentuk kubus yang tingginya hanya sekitar 15 meter dengan luas dasar tidak lebih dari 150 meter persegi. Secara fisik, ia bukan bangunan yang megah. Tapi secara spiritual, tidak ada bangunan lain di muka bumi yang memiliki tempat sekuat ini di hati manusia.
Kisah di balik bangunan itu jauh lebih kaya dan lebih dalam dari yang terlihat. Untuk memahami konteks lengkapnya, Sahabat bisa baca artikel kami tentang kisah nabi ibrahim as
Sebelum Ibrahim: Fondasi yang Sudah Ada
Banyak orang mengira Ibrahim adalah yang pertama membangun Kabah dari nol. Tapi menurut sebagian besar ulama, fondasinya sudah ada jauh sebelum Ibrahim.
Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Banyak riwayat menyebut bahwa Nabi Adam AS adalah yang pertama membangun tempat ibadah di lokasi tersebut atas perintah Allah. Namun banjir besar di zaman Nabi Nuh AS menghancurkan strukturnya hingga hanya tersisa fondasi yang tertimbun dalam tanah selama ribuan tahun.
Ketika Ibrahim diperintahkan untuk membangun Kabah, tugasnya bukan membangun dari nol. Ia diperintahkan untuk menghidupkan kembali rumah Allah yang sudah ada sejak awal penciptaan manusia.
Ibrahim dan Ismail: Ayah dan Anak yang Membangun dengan Tangan Sendiri
Inilah episode yang paling agung dalam sejarah Kabah.
Ibrahim datang ke Makkah menemui Ismail yang sudah tumbuh menjadi pemuda dewasa. Allah mewahyukan perintah kepada Ibrahim: bangunlah rumah-Ku di sini. Dan Ismail, tanpa ragu, siap membantu.
Keduanya mulai bekerja. Ibrahim yang menyusun dan mengangkat batu-batu dari bukit-bukit di sekitar Makkah. Ismail yang mengumpulkan batu dan menyodorkannya kepada ayahnya. Tidak ada arsitek. Tidak ada kontraktor. Hanya dua orang yang bekerja dengan tangan mereka sendiri, dalam cuaca padang pasir yang terik, dengan satu tujuan: membangun rumah untuk Allah.
Saat dinding mulai meninggi dan Ibrahim tidak bisa lagi menjangkau bagian atas, ia berdiri di atas sebuah batu besar. Batu itu secara ajaib menjadi lunak dan merekam jejak kaki Ibrahim di permukaannya. Batu inilah yang hingga hari ini kita kenal sebagai Maqam Ibrahim, yang masih bisa dilihat di kompleks Masjidil Haram.
Kabah yang dibangun Ibrahim memiliki tinggi sekitar 7 hasta, panjang 30 hasta, dan lebar 22 hasta. Tidak ada atap. Tidak ada pintu yang bisa dikunci. Sederhana, terbuka, dan murni sebagai tempat ibadah.
Salah satu batu paling istimewa yang dipasang adalah Hajar Aswad, batu hitam yang menurut riwayat berasal dari surga dan dibawa oleh malaikat Jibril. Batu ini diletakkan di sudut timur laut Kabah dan hingga hari ini menjadi titik awal thawaf jutaan jamaah haji dan umrah setiap tahunnya.
Sambil membangun, Ibrahim dan Ismail berdoa dengan doa yang Allah abadikan dalam Al-Quran:
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amal ini. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami jadikanlah umat yang berserah diri kepada-Mu.” (QS Al-Baqarah: 127-128)
Baca juga: Mengapa Allah Memerintahkan Ibrahim Menyembelih Ismail?
Seruan Haji Pertama dalam Sejarah
Setelah Kabah selesai dibangun, Allah memberikan perintah berikutnya kepada Ibrahim: seru seluruh umat manusia untuk datang berhaji.
Ibrahim bertanya dengan penuh kerendahan hati: “Ya Allah, suaraku tidak akan sampai ke seluruh manusia.” Allah menjawab: “Serulah, dan Kami yang akan menyampaikannya.”
Ibrahim berdiri di atas bukit dan menyeru: “Wahai manusia, datanglah menunaikan haji kepada Tuhan kalian!” (QS Al-Hajj: 27)
Dan seruan itu bergema melampaui batas ruang dan waktu, menjangkau setiap jiwa yang Allah kehendaki untuk menjawabnya hingga akhir zaman. Setiap jamaah haji yang memenuhi Makkah setiap tahunnya adalah jawaban atas seruan Ibrahim ribuan tahun yang lalu.
Renovasi Kaum Quraisy dan Kebijaksanaan Muhammad SAW
Berabad-abad berlalu. Kabah tetap berdiri tapi mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda Makkah beberapa tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi.
Kaum Quraisy memutuskan untuk merenovasi. Tapi ada masalah: dana yang terkumpul tidak cukup untuk membangun sesuai fondasi asli Ibrahim. Mereka terpaksa memperkecil ukuran Kabah. Bagian fondasi Ibrahim yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan dibiarkan di luar dengan pembatas rendah yang kini kita kenal sebagai Hijir Ismail.
Muhammad yang saat itu berusia sekitar 35 tahun ikut membantu mengangkut batu-batu untuk pembangunan. Ia bahkan mengangkat batu di atas pundaknya menggunakan selembar kain sebagai alas.
Namun muncul sengketa besar yang hampir memicu pertumpahan darah: siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya? Setiap kabilah Quraisy merasa paling berhak mendapat kehormatan tersebut. Ketegangan memuncak hingga hampir terjadi perang.
Muhammad tampil dengan solusi yang brilian. Ia meminta sebuah kain besar, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta perwakilan setiap kabilah memegang ujung kain dan mengangkatnya bersama-sama. Ketika kain sudah setinggi tempat yang diinginkan, Muhammad sendiri yang mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya ke posisinya. Semua kabilah merasa dihormati. Sengketa selesai tanpa setetes darah pun.
Abdullah bin Zubair dan Kabah Versi Ibrahim
Pada masa kekhalifahan, Kabah terkena serangan manjaniq dari pasukan Hajjaj bin Yusuf dan mengalami kerusakan yang sangat parah. Abdullah bin Zubair RA yang berkuasa di Makkah saat itu membangun ulang Kabah mengikuti fondasi asli Ibrahim, termasuk memasukkan kembali bagian Hijir Ismail ke dalam bangunan.
Rasulullah SAW sendiri pernah menyampaikan keinginannya agar Kabah dikembalikan ke bentuk asli Ibrahim kepada Aisyah RA. Maka Abdullah bin Zubair melaksanakan apa yang Rasulullah SAW impikan.
Namun setelah Abdullah bin Zubair gugur, Hajjaj bin Yusuf atas perintah Abdul Malik bin Marwan mengembalikan Kabah ke bentuk renovasi Quraisy. Itulah mengapa Hijir Ismail hingga kini berada di luar bangunan utama Kabah.
Renovasi Ottoman dan Kabah yang Kita Lihat Hari Ini
Pada abad ke-17, banjir besar kembali melanda Makkah dan merusak struktur Kabah secara signifikan. Sultan Murad IV dari Kekaisaran Ottoman memerintahkan renovasi besar-besaran. Inilah yang membentuk struktur dasar Kabah yang kita lihat hingga hari ini.
Di era modern, Kerajaan Arab Saudi terus melakukan perawatan intensif dan perluasan Masjidil Haram secara berkala untuk mengakomodasi jutaan jamaah yang datang setiap musim haji.
Lima Fakta Kabah yang Jarang Diketahui
- Hajar Aswad awalnya berwarna putih Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu. Ia menghitam karena dosa-dosa manusia yang menyentuhnya sepanjang zaman.
- Maqam Ibrahim masih menyimpan bekas kaki Ibrahim Batu tempat Ibrahim berdiri saat membangun Kabah masih ada di kompleks Masjidil Haram. Bekas pijakan kaki Ibrahim yang tercetak saat batu itu melunak masih bisa dilihat di dalamnya.
- Pintu Kabah terbuat dari emas murni seberat 280 kg Pintu emas yang sekarang dipasang pada tahun 1979 atas perintah Raja Khalid. Sebelumnya pintu Kabah terbuat dari kayu berlapis perak di era Ottoman.
- Kiswah diganti setiap tahun Kain hitam bersulam emas yang menutupi Kabah disebut kiswah. Ia diganti setiap tahun menjelang musim haji dengan kiswah baru yang dibuat khusus oleh ratusan pengrajin di Arab Saudi.
- Di dalam Kabah ada tiga pilar dan dua lampu gantung Lantai Kabah dari marmer. Di dalamnya terdapat tiga pilar kayu yang menyangga atap, dua lampu gantung dari emas dan perak, serta sebuah meja kecil. Hanya tamu-tamu istimewa yang diizinkan masuk ke dalamnya.
Kesimpulan
Sahabat, Kabah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah titik pertemuan antara perintah Allah dan kepatuhan manusia, antara masa lalu Ibrahim dan masa kini kita, antara langit dan bumi.
Setiap kali kita menghadap kiblat dalam shalat, kita sedang menghubungkan diri dengan sejarah yang dimulai dari seorang ayah dan anak yang mengangkat batu bersama di padang pasir yang tandus, sambil berdoa agar amal mereka diterima.
Dan doa itu dikabulkan. Terbukti hingga hari ini.
Dari semua perjalanan hidup Ibrahim, apa pelajaran terbesar yang bisa kita bawa ke kehidupan kita hari ini?
Referensi:
- QS Ali Imran ayat 96
- QS Al-Baqarah ayat 127-128
- QS Al-Hajj ayat 27
- Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
- HR Bukhari (peran Nabi Muhammad dalam renovasi Kabah)
- NU Online: Empat Kali Renovasi Kabah


