Apakah Nabi Ibrahim Berbohong Saat Menghancurkan Berhala? Ini Penjelasannya

apakah nabi ibrahim berbohong

Table of Contents

Sahabat, ada dua hal dalam kisah Nabi Ibrahim yang sering membuat orang bertanya-tanya.

Pertama, ketika kaumnya mengajaknya pergi ke perayaan besar, Ibrahim berkata bahwa dirinya sakit. Tapi setelah semua orang pergi, ia justru bangkit dan menghancurkan seluruh berhala di kota.

Kedua, ketika kaumnya yang marah besar menanyakan siapa pelakunya, Ibrahim menjawab: “Sebenarnya berhala besar itulah yang melakukannya, tanyakanlah kepada mereka jika mereka bisa berbicara.”

Dua pernyataan ini secara lahiriah terdengar tidak jujur. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan: apakah Ibrahim berbohong? Dan jika iya, bagaimana bisa seorang nabi melakukan hal itu?

Ternyata pertanyaan ini sudah dibahas panjang lebar oleh para ulama tafsir sejak berabad-abad lalu. Jawabannya menarik dan perlu dipahami dengan benar. Sebelum membaca lebih jauh, Sahabat bisa mengenal kisah Ibrahim secara lengkap di artikel kisah nabi ibrahim as

Dua Pernyataan yang Jadi Perdebatan

Pernyataan pertama terdapat dalam QS As-Shaffat ayat 89, di mana Ibrahim berkata “inni saqim” yang artinya “sesungguhnya aku sakit.” Kalimat ini ia ucapkan agar bisa tinggal ketika semua orang pergi ke perayaan, lalu ia gunakan kesempatan itu untuk menghancurkan berhala.

Pernyataan kedua terdapat dalam QS Al-Anbiya ayat 63, ketika kaumnya menuduh Ibrahim sebagai pelaku penghancuran berhala. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung besar itulah yang melakukannya.” Padahal jelas berhala tidak bisa bergerak apalagi menghancurkan sesuatu.

Dua pernyataan inilah yang membuat sebagian orang bertanya apakah Ibrahim pernah berdusta.

Mengenal Konsep Tauriyyah

Sebelum menjawab pertanyaan utama, kita perlu memahami satu konsep dalam Islam yang disebut tauriyyah.

Tauriyyah adalah ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang secara lahiriah terdengar berbeda dari kondisi nyata, tapi makna yang ia maksudkan dalam hatinya adalah benar. Ini berbeda dari berbohong karena dalam berbohong, seseorang secara sadar menyampaikan sesuatu yang ia tahu salah.

Contoh sederhana: seseorang berkata “aku tidak punya uang” kepada orang yang memintanya dengan cara tidak baik, padahal yang ia maksud adalah “aku tidak punya uang untukmu.” Kalimat itu benar dalam konteks yang ia maksudkan, meskipun secara harfiah terdengar tidak akurat.

Para ulama membolehkan tauriyyah dalam kondisi darurat, terutama untuk menghindari kezaliman atau demi kemaslahatan yang lebih besar.

Penjelasan Ulama tentang Pernyataan Pertama

Soal ucapan “aku sakit,” para ulama memberikan beberapa penjelasan.

Imam Thabari dan Allamah Thabathabai berpendapat bahwa Ibrahim mengetahui dirinya akan segera sakit, sehingga pernyataannya benar secara pengetahuan batin yang dimiliki seorang nabi.

Pendapat lain menyatakan bahwa Ibrahim memang sedang sakit, yaitu sakit hati yang sangat dalam menyaksikan kaumnya tenggelam dalam kesesatan. Dan itu adalah sakit yang nyata, bukan dibuat-buat.

NU Online dalam artikelnya tentang tiga siasat Ibrahim menyebut ini sebagai tauriyyah yang disengaja untuk melancarkan dakwah, di mana makna yang Ibrahim maksudkan dalam hatinya adalah benar adanya.

Penjelasan Ulama tentang Pernyataan Kedua

Ini yang lebih sering dipermasalahkan. Bagaimana Ibrahim bisa mengatakan “berhala besar itu yang melakukannya” padahal berhala jelas tidak bisa bergerak?

Ibnu Katsir dan Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ini bukan kebohongan tapi siasat dakwah yang sangat cerdas. Ibrahim tidak sedang mengklaim bahwa berhala benar-benar bertindak. Ia justru membalikkan logika kaumnya sendiri.

Maknanya bisa dipahami begini: “Kalian menyembah berhala itu sebagai tuhan yang memiliki kekuatan. Kalau memang ia tuhan yang berkuasa, tanyakanlah padanya siapa yang melakukan ini.”

Ketika kaum itu menjawab “berhala tidak bisa berbicara,” Ibrahim langsung menjebak mereka dengan pertanyaan yang lebih mendasar: “Lantas mengapa kalian menyembah sesuatu yang bahkan untuk berbicara pun tidak mampu?” (QS Al-Anbiya: 65-67)

Dengan kata lain, Ibrahim menggunakan logika kaumnya sendiri untuk membuktikan kebodohan mereka. Ini adalah argumen retorika yang brilian, bukan kebohongan.

Jadi, Apakah Ibrahim Berbohong?

Jawaban para ulama mayoritas adalah tidak.

Para nabi bersifat maksum, yaitu terjaga dari dosa besar termasuk berdusta. Apa yang Ibrahim lakukan dalam dua peristiwa tersebut adalah tauriyyah, bukan kebohongan dalam pengertian syariat.

Imam Nawawi dan jumhur ulama sepakat bahwa tauriyyah dibolehkan dalam kondisi darurat dan untuk kemaslahatan yang jauh lebih besar, dalam hal ini adalah menegakkan tauhid dan membongkar kebodohan penyembah berhala.

Kesimpulan

Sahabat, Ibrahim tidak berbohong. Ia menggunakan kecerdasan bahasa dan logika yang diakui dalam Islam untuk berdakwah di tengah kaumnya yang tidak mau mendengar dengan cara biasa.

Justru dari kisah ini kita bisa belajar bahwa dakwah tidak selalu harus frontal dan keras. Terkadang, cara yang paling efektif untuk membuka mata orang adalah dengan meminjam logika mereka sendiri dan memperlihatkan kontradiksi di dalamnya.

Dan itulah yang Ibrahim lakukan dengan sangat cemerlang.

Setelah menghancurkan berhala, Ibrahim menghadapi konsekuensi terberat: dibakar hidup-hidup oleh Namrud. Baca bagaimana ia menghadapinya di artikel doa nabi ibrahim saat dibakar namrud

Referensi:

  • QS As-Shaffat ayat 89
  • QS Al-Anbiya ayat 62-67
  • Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim
  • Imam Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran
  • NU Online: Tiga Siasat Nabi Ibrahim AS dalam Bela Tauhid
  • Wikishia: Penghancuran Berhala oleh Nabi Ibrahim

 

Bagikan Artikel Ini di :
Picture of Irvan Nahrowi

Irvan Nahrowi

Irvan Nahrowi is the founder of Nusalamify.com, a platform that aims to integrate Islamic values into the digital realm.
[wpml_language_switcher]