Sahabat pernah merasa penasaran bagaimana kisah manusia pertama di muka bumi ini dimulai? Bagaimana Allah menciptakan Adam, menempatkannya di surga, hingga akhirnya turun ke bumi dan menjadi khalifah? Semua itu bukan hanya cerita, melainkan pelajaran berharga yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an untuk kita renungkan.
Mari kita bahas bersama kisah Nabi Adam secara lengkap, mulai dari penciptaannya hingga wafat, disertai hikmah yang bisa kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.
Penciptaan Nabi Adam
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan dari tanah. Tanah yang diambil adalah campuran dari berbagai jenis tanah di seluruh penjuru bumi. Dari tanah liat itu, Allah membentuk jasad Nabi Adam, lalu meniupkan ruh ke dalamnya sehingga ia hidup (QS. Al-Hijr: 26-29).
Setelah ditiupkan ruh, Allah mengajarkan Adam berbagai ilmu pengetahuan. Inilah keistimewaan manusia pertama: Allah memberinya ilmu yang tidak diketahui malaikat. Sebagai bentuk penghormatan, Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam. Semua malaikat taat, kecuali Iblis yang sombong karena menganggap dirinya lebih mulia diciptakan dari api (QS. Al-Baqarah: 30-34).
Menurut riwayat Imam Muslim, Nabi Adam diciptakan dengan tinggi sekitar 60 hasta atau sekitar 27 meter. Dari sinilah, perjalanan manusia pertama dimulai.
Kisah penciptaan Nabi Adam dari tanah hingga penolakan Iblis bisa kamu baca lebih detail di artikel Penciptaan Nabi Adam: Dari Tanah Hingga Penolakan Iblis
Kehidupan Nabi Adam di Surga
Allah menempatkan Adam di dalam surga. Untuk melengkapi kebahagiaannya, Allah menciptakan seorang pasangan dari tulang rusuknya yang kemudian dinamakan Hawa.
Adam dan Hawa bebas menikmati segala kenikmatan surga, kecuali satu larangan: jangan mendekati pohon tertentu. Namun, Iblis yang telah berjanji untuk menyesatkan keturunan Adam, datang membisikkan godaan. Ia meyakinkan keduanya bahwa buah pohon itu akan memberi keabadian.
Akhirnya, Adam dan Hawa tergoda. Setelah memakan buah terlarang itu, aurat mereka tampak, dan mereka menutupinya dengan daun surga. Allah menegur mereka, lalu menurunkan keduanya ke bumi. Namun, Adam segera bertobat dan Allah mengampuninya (QS. Al-A’raf: 19-25).
Setelah diturunkan ke bumi, Nabi Adam berdoa memohon ampun kepada Allah. Doa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, selengkapnya bisa dibaca di artikel Doa Taubat Nabi Adam
Turunnya Nabi Adam ke Bumi
Penurunan Adam dan Hawa ke bumi menjadi awal kehidupan manusia di dunia. Dalam beberapa riwayat, Adam diturunkan di daerah India, sedangkan Hawa di Jeddah (Arab Saudi). Setelah berpisah lama, Allah mempertemukan mereka di Jabal Rahmah, Arafah, Mekkah.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa meski manusia melakukan kesalahan, pintu taubat selalu terbuka. Nabi Adam menjadi teladan pertama bahwa setiap dosa bisa diampuni dengan istighfar yang sungguh-sungguh.
Kehidupan Nabi Adam di Bumi dan Anak-Anaknya
Di bumi, Adam hidup dengan penuh perjuangan. Ia belajar bercocok tanam, membuat roti, hingga mendidik anak-anaknya. Dari keturunan Adam, lahirlah generasi pertama umat manusia.
Di antara anak-anaknya yang terkenal adalah Qabil dan Habil. Allah memerintahkan mereka untuk berkurban. Kurban Habil diterima karena ia ikhlas, sedangkan kurban Qabil ditolak. Rasa iri mendorong Qabil membunuh Habil—itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia (QS. Al-Maidah: 27-31).
Melihat saudaranya tewas, Qabil bingung. Allah kemudian mengirimkan seekor burung gagak yang mengajarkan cara menguburkan jasad. Dari peristiwa ini, manusia pertama kali belajar tata cara pemakaman.
Wafatnya Nabi Adam
Setelah hidup sekitar 1.000 tahun, Nabi Adam wafat. Ada riwayat yang menyebut ia pernah menghibahkan sebagian usianya untuk Nabi Dawud. Namun ketika malaikat maut datang, Adam sempat merasa belum waktunya, karena lupa pernah memberikan sebagian umur itu.
Nabi Adam wafat pada hari Jumat. Para malaikat datang memandikan, mengafani dengan kain dari surga, serta memberi wewangian. Mereka juga mengajarkan kepada anak-anak Adam tata cara mengurus jenazah, yang kemudian menjadi syariat hingga sekarang.
Mengenai lokasi makamnya, terdapat beberapa pendapat. Ada yang menyebut di India, ada pula yang mengatakan di Jabal Abu Qubais Makkah, dan sebagian riwayat menyebut jasadnya dipindahkan oleh Nabi Nuh ke Baitul Maqdis.
Hikmah Kisah Nabi Adam yang Bisa Kita Ambil
- Kita semua sama, dari tanah
Allah ciptakan Adam dari tanah. Artinya, asal kita semua sama. Jadi nggak ada alasan untuk sombong hanya karena harta, jabatan, atau penampilan. Semua akan kembali ke tanah juga. - Ilmu adalah bekal utama hidup
Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam. Ini mengingatkan kita kalau ilmu itu kunci. Dengan ilmu, manusia bisa menjalani peran sebagai khalifah di bumi. - Setan selalu mencari celah
Adam dan Hawa saja bisa tergoda, apalagi kita. Itu sebabnya kita harus selalu waspada dengan bisikan setan—kadang berupa rasa malas ibadah, iri hati, atau nafsu duniawi. - Jangan takut salah, asal mau bertaubat
Kesalahan Adam mengajarkan bahwa manusia wajar khilaf. Tapi yang terpenting adalah segera kembali kepada Allah. Selama kita hidup, pintu taubat selalu terbuka lebar. - Ikhlas itu syarat diterimanya amal
Kisah Qabil dan Habil mengingatkan bahwa Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan hati bersih. Jadi bukan banyaknya sedekah atau ibadah yang Allah lihat, tapi ketulusan kita. - Kematian adalah kepastian
Adam wafat di usia 1.000 tahun. Walau umurnya panjang, tetap saja ajal menjemput. Dari sini kita belajar bahwa hidup hanyalah sementara, jadi gunakan waktu dengan sebaik-baiknya. - Hari Jumat itu istimewa
Nabi Adam diciptakan, diturunkan, dan wafat pada hari Jumat. Maka jangan sia-siakan hari Jumat: perbanyak doa, shalawat, dan amalan karena hari ini punya banyak keberkahan.
Kesimpulan
Kisah Nabi Adam bukan hanya sejarah awal manusia, tetapi juga pedoman hidup. Dari penciptaan hingga wafatnya, kita belajar tentang kesalahan, taubat, perjuangan hidup, dan pentingnya ilmu serta ketakwaan.
Maka, setiap Muslim perlu merenungkan kembali kisah ini sebagai pengingat bahwa kita semua berasal dari satu asal-usul: tanah. Yang membedakan hanyalah iman, taqwa, dan amal shalih kita.
Referensi
- Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30-34, Al-Hijr ayat 26-29, Al-A’raf ayat 19-25, Al-Maidah ayat 27-31
- Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya’
- Muslim & Bukhari, Kitab Shahih
- Wikipedia: Adam dalam Al-Qur’an
- Inews.id: Kisah Nabi Adam Lengkap
- Ruqoyyah.com: Kisah Nabi Adam
- Detik.com: Umur Nabi Adam



