Sejarah manusia dimulai dari Nabi Adam AS sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. Dari beliaulah lahir keturunan yang kemudian menyebar di muka bumi. Namun, kisah anak-anak Nabi Adam tidak selalu berjalan damai. Salah satu peristiwa penting yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah kisah Habil dan Qabil, yang mencatat sejarah pembunuhan pertama di bumi. Dari kisah ini, umat manusia mendapat pelajaran berharga tentang bahaya iri hati, pentingnya keikhlasan, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Siapa Habil dan Qabil?
Habil dan Qabil adalah dua putra Nabi Adam AS. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setiap kali Nabi Adam memiliki anak, mereka lahir berpasangan (laki-laki dan perempuan). Kemudian, Allah memerintahkan agar anak-anak Adam menikah secara silang (bukan dengan saudara kembar langsungnya) untuk menjaga keturunan tetap berkembang.
Namun, Qabil menolak perintah ini karena tidak menerima pasangan yang ditentukan baginya. Sejak saat itu, muncul benih kebencian dalam hati Qabil terhadap saudaranya Habil.
Habil dikenal sebagai pribadi yang saleh dan taat kepada Allah, sementara Qabil digambarkan memiliki sifat keras hati dan mudah dipengaruhi rasa iri.
Persembahan yang Ditolak dan Diterima
Untuk menyelesaikan perselisihan di antara keduanya, Nabi Adam memerintahkan Habil dan Qabil mempersembahkan kurban kepada Allah.
- Habil mempersembahkan kambing terbaik dari ternaknya.
- Qabil hanya memberikan sebagian hasil pertanian yang buruk.
Allah menerima persembahan Habil karena keikhlasannya, sementara persembahan Qabil ditolak karena tidak dilandasi niat yang benar.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).”
(QS. Al-Maidah: 27)
Penolakan inilah yang membuat Qabil semakin iri dan marah kepada saudaranya.
Pembunuhan Pertama dalam Sejarah Manusia
Karena dikuasai rasa dengki, Qabil bertekad membunuh Habil. Dalam Al-Qur’an, diceritakan dialog antara keduanya:
“Sungguh aku ingin membunuhmu,” kata Qabil.
Habil menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Jika engkau mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Maidah: 27–28)
Meski Habil menolak melawan, Qabil tetap menuruti hawa nafsunya. Ia pun membunuh Habil, menjadikannya pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.
Setelah itu, Qabil kebingungan bagaimana memperlakukan jenazah saudaranya. Allah kemudian mengirim seekor burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan gagak lain yang mati. Dari situlah Qabil belajar cara menguburkan mayat saudaranya.
Hikmah Kisah Habil dan Qabil
Kisah ini bukan hanya sejarah, tetapi juga penuh pelajaran untuk kehidupan sekarang:
1. Bahaya iri hati dan dengki.
Rasa iri dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, bahkan pembunuhan.
2. Keutamaan ikhlas dalam ibadah.
Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh takwa.
3. Menjaga persaudaraan.
Pertikaian antar saudara bisa menimbulkan kerusakan besar jika tidak dikendalikan.
4. Qabil menanggung dosa pembunuhan setelahnya.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada seorang pun yang terbunuh secara zalim kecuali anak Adam yang pertama (Qabil) mendapat bagian dari darahnya, karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.”
Kisah Habil dan Qabil adalah peringatan bagi umat manusia agar menjauhi sifat iri hati dan selalu berpegang pada ketakwaan kepada Allah SWT. Dari kisah ini pula kita belajar bahwa kesalahan besar berawal dari hati yang tidak ikhlas.
Untuk memahami lebih dalam tentang awal kehidupan manusia, kamu juga bisa membaca artikel Penciptaan Nabi Adam: Dari Tanah Hingga Penolakan Iblis dan Doa Taubat Nabi Adam dalam Al-Qur’an.
Referensi
- Al-Qur’an Surat Al-Maidah: 27–31
- Tafsir Ibn Katsir, Kisah para Nabi
- Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim


